hanya blog biasa
Dilemma
Aku kembali dihadapkan pada sebuah ujian. Dilemma. Mungkin itu kata yang pantas untuk menaskahi ujian itu. Ya… dilemma. Cocok sekali. Dilemma… bukankah kata ini diartikan sebagai suatu kondisi dimana kita diharuskan untuk memilih satu hal di antara dua pilihan yang ada, sementara kita tidak bisa menjatuhkan pilihan kepada yang manapun. Bahkan kita cenderung ingin memilih keduanya???
Seperti apakah dilemma yang ku hadapi?
Saat ini aq memang sudah memiliki pekerjaan di sebuah Kantor Partai Politik. Tugas-tugas yang menjadi beban kerja ku hanyalah sebagai operator komputer biasa, namun aku merasa telah menjadi seorang Operator Komputer yang luar biasa untuk ukuran seorang Operator Komputer di bidang Kesekretariatan. Sesekali aku harus menjadi staff yang menyimpan rahasia penting.
Jika bicara materi, honor bulanan di sini hanya lebih sedikit dari Upah Minimum Regional (UMR). Namun sesekali memang aku mendapat “obyekan” yang mungkin bisa mencapai setengah dari jumlah honor bulanan itu sendiri. Sebagai catatan, honor ku lebih kecil dibanding para karyawan yg memang sudah lebih lama masa kerjanya di tempat ini, walaupun pekerjaan mereka hanyalah melipat amplop dan menyiapkan surat-surat. Bahkan ketimbang mereka yang bertugas menjaga kebersihan di tempat ini pun aku belum mendapatkan penghargaan yang lebih dengan wujud “money”. Untuk seseorang yang telah bekerja sebagai seorang professional, apakah pantas aku diberi honor seperti ini?
Bicara suasana kerja, lumayan kondusif. Walaupun sesekali aku harus menanggung beban pekerjaan yang tidak bisa kulimpahkan pada orang lain. Bahkan aku harus berusaha menahan diri agar staff-staff yang lainnya tidak merasa iri atas sedikit keistimewaan yang diberikan oleh para Pimpinan padaku. Ya… aku memang sudah memikirkan untuk pindah dari tempat kerja ini.
Yang menjadikan aku ingin tetap bertahan di sini hingga Pemilu usai adalah, menjelang Pemilu, biasanya sakuku akan cukup bertambah. Hehehe.. tetep aja materi… Tapi bukan itu aja… Di sini aku berharap juga menjadikan batu loncatan yang cukup tinggi untuk meraih sebuah pekerjaan yang lebih tinggi tingkatannya. APa bisa aku mengharapkan pimpinan-pimpinan di sini yang notabene pejabat-pejabat tinggi daerah ini agar aku bisa mendapatkan pekerjaan yang cukup bergengsi di luar sana??
Inilah dilemmaku.
Kemarin, seorang teman dekatku saat SMP hingga SMU dulu menawarkan aku sebuah pekerjaan di sebuah Akademi Kebidanan yang dimiliki oleh orang tuanya. Dan aku pun ditawarkan posisi sebagai Pengawas Labor Komputer yang berada langsung di bawah Pimpinan Orang Tuanya. Honor yang dijanjikan pun cukup lumayan. Sedikit lebih baik daripada honor di tempat kerja ku sekarang.
Nah… bagaimanakah sebaiknya aku memilih? Teman-teman… mohon masukannya dong…
| Print article | This entry was posted by wewenk on 24 December 2008 at 11:07, and is filed under Berita dan Cerita, Story of My Life. Follow any responses to this post through RSS 2.0. You can leave a response or trackback from your own site. |










about 3 years ago
Saya sarankan untuk menerima tawaran dari sohibmu bekerja diperusahaan ortunya. Alasannya simple sajah, kau takkan disia-siakan selagi engkau bersikap prof. dan aku yakin kau punya loyalitas untuk itu..
aku dukung kau pindah dari partai politik itu man…
about 3 years ago
klau ada yang terbaik kenapa tidak,, tapi uang bukanlah segalanya omzz… kenyamanan juga penting.. gaji tinggi klau kita g’ nyaman juga susah
about 3 years ago
Kalau uang bukan segalanya dan cari kenyamanan… ya mas sendiri yg bisa jawab, kan mas yg ngrasain dan bisa ada gambaran jika memilih yang ini akan bagaimana dan jika memilih yang itu bagaimana
Pilihlah yang sesuai kata hati mas, semoga berhasil ya
about 3 years ago
yes, saya akan mengulang kalimah klasik; “KALO MEMANG ADA YANG LEBIH BAIK, MENGAPA TIDAK?”. Untuk ukuran dillema, saya pun juga mengalaminya. saya kerja di swasta, dan terkena imbas resesi global. pohak HRD pun terkesan sudah mulai mencari sasaran, berbagai aturan baru ditegakkan, dan beberapa rekan kerja saya sudah ‘ditembak mati’. saya pun beberapa waktu lalu sudah jadi target operasi. trus musti gimana lagi? dilema is dilema. saban hari saya cuman kudu kerja sambil ketar-ketir, seolah saya sudah dijadikan terdakwa, ibarat mata saya sudah ditutup, diberdirikan di lapangan tembak. saya menunggu… dieksekusi? entahlah. teman2 saya mencoba membantu saya, hingga berujung pada kalimah; “udah beres koq masalahmu itu”. beres? mungkin memang beres. tapi itu semua membuat sadar, bahwa bekerja di perusahaan swasta plus segala macam aturannya, membuat status saya tidak mapan. maka, bila ada kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, tentu saja harus kita ambil. dan ingat ya, KESEMPATAN TIDAK DATANG DUA KALI. :nunggu:
about 3 years ago
Hmm… Dr. Djusar Kah wen??? Why Not… but kamu harus pikirkan, apakah akan bisa beratah sekian lama? seperti kamu betah di t4 sekarang??? Think About that… ok :asoygeboy: