Pesta Demokrasi di Negeri ini sudah dimulai. Genderang persaingan mulai bertabuh. Gemuruh “Bisik-Bisik” simpatisan mulai menggema. Panggung Demokrasi Negeri ini sebentar lagi akan mulai dihoyak. Aroma Persaingan Politik Party to Party dan Man to Man sudah mulai terasa.

Negeri ini yang sudah memiliki jibunan Partai Politik, baik yang akan ikut pada Pesta Demokrasi tahun ini maupun partai yang hanya sebagai penonton saja akan menghangat. 38 Partai POlitik dengan 44 Nomer Urutnya sejak beberapa bulan yang lalu sudah mulai “menyerang” dengan berbagai bentuk kampanye. Baik dengan mengadakan acara besar-besaran dihadapan puluhan ribu kadernya, atau dengan menayangkan iklan-iklan di berbagai stasiun televisi negeri ini. Begitu ketatnya persaingan di arena demokrasi ini.

Beberapa partai yang menyatakan diri sebagai partai pendukung pemerintah, dalam bermacam design iklannya telah mengklaim kesuksesan Pemerintah yang tengah berkuasa sebagai kesuksesan atas kekuasaan yang dimiliki Partainya. Mereka tidak malu-malu menyatakan bahwa Partai mereka adalah partai yang berkuasa, kendati pada Pemilu sebelumnya, partai mereka bukanlah jawara.

Sebut saja iklan salah satu parpol yang mengklaim kesuksesan dan prestasi pemerintah dalam hal menurunkan harga BBM sampai 3 kali. Sekedar mengingatkan (FYI), bahwa negara-negara pengkonsumsi BBM di belahan manapun di dunia ini toh juga ikut menurunkan harga BBM di negara masing-masing. Bahkan negara tetangga kita, Malaysia saja tercatat telah menurunkan harga BBM di negaranya sampai 8 kali. Logika awam, pantaskah penurunan harga BBM di negara ini disebut sebagai kesuksesan Pemerintah Berkuasa? Atau pantaskah hal ini disebut-sebut sebagai kesuksesan sebuah Partai Politik yang “merodai” pemerintahan berkuasa di negeri ini?

Baiklah, itu hak mereka masing-masing saling mengklaim apapun yang mereka anggap pantas untuk mereka klaim.

Tapi yang harus kita ingat adalah, bahwa Pemerintahan yang Berkuasa saat ini juga dijalankan oleh perwakilan-perwakilan di dalam sebuah kumpulan para ahli yang kita sebut kabinet. Para ahli tersebut bukan berasal dari satu kekuatan politik saja. Mereka bukan berasal dari satu partai politik. Dengan demikian pantaskah sebuah Partai Politik mengkampanyekan nama partai mereka dengan membuat sebuah Kampanye berisikan “Sukses Pemerintah” ??